Mengulik Cerita Asal Usul Desa Pasedan Ada Beberapa Versi Yang Saya Kumpulkan Selama 10 Tahun Terakhir, Dari Berbagai Sumber Tokoh Tokoh Sepuh Desa Dan Desa Sekitar. ini merupakan salah satu versi dari cerita tersebut.
Sebelum Bernama Pasedan Desa Ini Adalah Tiga Perkampungan Yang Bersebelahan, Yaitu Kampung Nggogik, Ndilem Dan Bonan Dengan Jarak Masing Masing 1 Km
Kampung Nggogik
Yang Terletak Arah Barat Daya Sekitar 3 Km Dari Balai Desa , Sampai Sekarang Tak Berpenghuni Dan Tanahnya Berstatus GG(Governor Ground, Milik Desa), pekerjaan sehari hari adalah sebagai blandong.
Kampung Mbabalan
Warga kampung mbabalan bermatapencaharian bercocok tanam dan blandong, Mbabalan Yang sekarang di kelola perhutani kph mantingan,, Kampung Pemukimanya Sekarang Di Kelola Perhutani, Terletak Arah Selatan, Sekitar Satu Km Dari Balai Desa
Kampung Bonan
Berasal Dari Kata Kebonan Yang Di Situ Tumbuh Subur Kebun Sukun di , Terletak Arah Timur Laut, Sekitar Jarak Satu Km Dari Balai Desa Pasedan, sebagai kampung tertua.yang bermata pencaharian sebagai petani dan pekebun.
Tragedi Pageblug
Masing Masing Kampung Memiliki Tokoh Sentral Yang Sangat Di Segani ,Sebagai Pemimpin Spiritual,Olah Kanuragan Dan Pengobatan,petung(perhitungan hari,nasib dll) Ketika Itu Masyarakat Masih Menganut Animisme,Mistis,Perdukunan Pemujaan Sudah Menjadi Bagian Hidup Sehari Hari,Hingga Suatu Waktu Terjadi Wabah (Pageblug,Isuk Loro Sore Mati, Sore Loro Isuk Mati) , Karena Sebelumnya Ada Perselisihan Atar Tiga Pimpinan Kampung Ini, Muncul Prasangka Antar Mereka Bahwa Kampung Di Santet Balung Kukang.(Santet Balung Kukang Adalah Santet Sakti Yang Bila Di Gores Bekas Telapak Kaki Maka Akan Segera Mati,Bila Di Acungkan Kearah Seseorang Maka Akan Layu Dan Mati(Nggelembus), Bila Di Taruh Didalam Rumah, Maka Pemilik Rumah Akan Minggat Atau Menderita Selamanya, Bila Di Tanam Di Dalam Tanah Maka Seluruh Kampung Akan Mati Atau Menderia Atau Minggat Dan Tanahnya Akan Gersang Dan Tandus.
Sehingga Pemimpin Ketiga Kampung Ini Bertemu Untuk Menyelesaikan Persoalan Ini, Namun Malah Terjadi Perseteruan Adu Kesaktian Antar Tiga Saudara Satu Perguruan Ini,Namun Nahas Ketiganya Mati(ma,ga,ba, tha,nga) Sedha Dan Semuanya Di Kuburkan Di Tempat Itu Juga.Dalam Bahasa Jawa Sedha Merupakan Heirarkhi Tertinggi Dari Seseorang Terhormat Yang Meninggal,Sejak Saat Itu Wilayah Tersebut Di Kenal Dengan Nama pasedan,
Warga Kampung Seperti Ayam Kehilangan Induknya, Semetara Pagelug Terus Merajalela, Warga Kampung Terus Melakukan Puja Puja, Sesaji Di Makam Dan Membawa Yang Sakit Ke Makam kesembuhan, untuk memintaPemimpin/Guru,Untuk Meminta Kesembuhan,Ketika Yg Sakit Meninggal Dikubur Di Samping Pemimpinya Dan Jumlahnya Sangat Banyak. Maka Tempat Ini DiSebut pasedan(Dari Kata Sedha/Mati). Tempat Itu Sekarang Tepat DiDirikan Balai Desa Pasedan, Tak Ayal Bila Ada Penggalian Di Kompleks Balai Desa Banyak Di Temui Tulang Belulang Tak Beraturan,
pasedan Tak Berpenghuni
Pageblug Hampir Menghabiskan Separuh Penduduk Dari Tiga Perkampungan, Hingga Mereka Memutuskan Untuk Meninggalkan Kampung Dan Tidak Pernah Berniat Untuk Kembali Karena Tanah Yang Terkena Santet Tumbal Balung Kukang Akan Tandus Dan Sengsara Sampai Anak Cucu,Sebagian Minggat Ke Selatan Di Nggendongan/Kedung Rejo Blora(Yang Kelak Keturunannya Mbah Banjir) Dan Sebagian Ke Utara Di Kasingan(Yang Anak Turunya Kelak Sebagai Mbah Dhothong). Hingga Tak Satu Pun Penghuni,Selama Satu Umur Manusia), Namun Anak Keturunan Pasedan Masih Tetap Mengunjungi Makam (Seba/Jawa,Menghadap Penuh Harap) Hingga Dalam Versi Lain Tempat Itu, Di Sebut Paseban Dari Kata Seba.
Cikal Bakal Orang pasedan Masa Berikutnya Dari Nggendongan
Gadis Yang Minggat Ke Nggendongan Di Persunting Oleh Pemuda Nggendongan Dan Melahirkan Seorang Putra Bernama Banjir Setelah Dewasa Dan Menikah, Banjir Yang Merasa Bukan Keturunan Lajer Lanang Memutuskan Kembali Ke pasedan Dan Menetap Di pasedan Memiliki Empat Putra Yaitu Bandang, Kromo Gudhik,Codhot, Dan Chowek. Sekarang Brayat(Keturunan Keluarga Besar) Mbah Bandang Adalah Keluarga Mbah Tir/Kektir, Kromo Gudhik Menurunkan Brayat Mbah Ngali,Chodhot Menurunkan Brayat Mbah Kaji Dul(Abdul Jalil), Cowek Menurunkan Brayat Mbah Sarini.
Cikal Bakal Orang pasedan Masa Berikutnya Dari Kasingan
Salah Satu Laki-Laki Yang Minggat Ke Kasingan Menikah Dengan Gadis Kasingan Memiliki Satu Putra,Namun Sang Ayah Meninggal Saat Putranya Masih Bayi, Dan Sang Ibu Menikah Lagi Dengan Laki-Laki Yg Bukan Dari pasedan, Memiliki Dua Putra Bernama Dhotong Dan Reong, Setelah Dewasa Satu Laki-Laki Dan Di Temani Dua Saudara Tirinya Berkunjung Ke Tanah Leluhur Di pasedan, Di Kisahkan Tiga Bersaudara Memasuki Gua Cerawang(Ngotoko) Saat Di Tengah Gua Yg Gelap, Laki-Laki Itu Di Dorong Ke Dasar Gua, Berniat Membunuh Untuk Menguasi Harta Peninggalan Yang Berada Di pasedan, Saat Di Dorong Oleh Kedua Saudara Tirinya Tiba-Tiba Berubah Menjadi Tumbak Kunang, Yang Menerangi Gua, Sampai Sekarang Tumbak Itu Masih Tersimpan Di Keluarga Mbah Samsuri, Yang Masih Keturunan Mbah Thotong Reong.
Sekarang Warga Pasedan Yang Bukan Dari Trah Ke Lima Orang Itu Di Pastikan Adalah Pendatang.
BERKEMBANGNYA ISLAM DI PASEDAN
Setalah Beranak Cucu, Tiga Perkampungan Itu Lebur Menjadi Satu Kecuali Nggogik Masih Kosong Tak Berpenghuni Hingga Sekarang, Pernah Di Huni Keluarga Trah Mbah Pangi(Sumani) Namun Akhirnya Bergabung Kembali Ke pasedan,
Sekitar Tahun 1550an Walaupun Saat Itu Pusat Pemerintahan Dalam Kekuasaan Kesultanan Padjang Namun Nafas Islam Belum Terlihat, Baru Sekitar Tahun 1590 an Ketika Pemerintahan Berganti Ke Mataram Terjadi Islamisasi Besar Besaran oleh pemerintahan mataram Dengan Mengirim Cantrik(Santri)Dari Kadilangu Dan Santri Dari Maulana Mahkdum Ibrahim(Sunan Bonang), Untuk Syiar Islam Keseluruh penjuru Wilayah Mataram Dengan Kekancingan Wali (Wakil) Oleh Reh Pengulon (Lembaga Penghulu) Yang Mengurusi Bidang Keagamaan. Di Antara Wali Utusan Mataram Ialah
Mbah Suro Gino Dengan Sebutan Lain Mbah Gendok/Mbah Surgo Wali Di Wilayah Ngotoko Dan Dong Prau,
Kyai Rambat Dengan Sebutan Lain Mbah Surgi Di pasedan,
Mbah Songgo Buwono Dengan Sebutan Lain Kyai Banteng/Mbah Gembot Di Desa Jukung,
Mbah Mbah Hadi Kusumo Wali Di Dukuh Bawang,
Mbah Jati Kusumo Dengan Sebutan Lain Mbah Purwo Kusumo Wali Di Ngulaan.
Kyai Mranggi Wali Di Coban Mantingan,
Kyai Reso Sosrodiwono Wali Di Desa Kadiwono,
Mbah Abdul Rohman Wali Di Wilayah Telogo, Karangasem
Terlepas dari kebenaran cerita asal usul wallahualam,saya berlindung kepada tuhan sang pencipta
by: Ahmad Solikin